HARI RAYA NYEPI

10 09 2010

1. Pengertian dan Hakekat Nyepi

Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru Saka yang jatuh pada penanggalan apisan sasih kadasa sehari setelah Tilem Kadasa atay bisa juga dikatakan hari penyucian untuk mencapai keseimbangan buana agung dan buana alit.
Sarana penyucian yang digunakan adalah mantram, tirtha yang berfungsi melebur malaning bumi, api suci berfungsi untuk pem,basmi. Untuk memperoleh kedua sarana tersebut dilakukan dengan cara upacara keagamaan yang disesuaikan desa desa, kala dan patra serta yoga semadhi. Bagi masyarakat Hindu di Bali, penyucian terhadap buana agung diwujudkan dengan menyelenggarakan upacara melasti dan pencaruan tawur kasanga, sedangkan penyucian terhadap buana alit dilakukan dengan Catur Brata Penyepian.
Hakekat Nyepi adalah penyucian buana agung dan buana alit untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin, terbinanya kehidupan yang berlandaskan Satyam (kebenaran), Siwam(kesucian) dan Sundaram (keindahan).

2. Sejarah Nyepi

Pada tahun 78 masehi seorang dari Dinasti Kusana bernama Raja Kaniska I naik tahta kerajaan. Raja ini sangat bijaksana bahkan pada hari Minggu tanggal 21 Maret 79. Purnama Waisaka yang kebetulan pada hari itu gerhana bulan, menetapkan kelender sistem Saka untuk mengenang kejayaan dan hari penobatannya. Sejak saat itulah ditetapkan perayaan tahun Saka.

Diresmikannya tahun Saka oleh Raja Kaniska I merupakan tonggak sejarah yang mentup permusuhan anatr suku di India sebelumnya. Semenjak saat itul bangkitlah toleransi antar suku bahkan antar agama.

Sejak ditetapkannya tahun Saka oleh raja Kaniska I, tahun ioni kemudian dipakai pula sampai ke India Utara yang sebelumnya memakai tahun Candra, demikian pula di India Timur bahkan terus berkembang ke Nusantara khususnya Bali. Dan sejak saat itu terjadilah pembauran antara tahun Saka (yajng memakai oerhitungan matahari) dengan tahun Candra.

Sepanjang sejarah Indonesia dari ratusan prasasti yang ditemukan dari jaman Sriwijaya sampai Majapahit prasasti-prasasti tersebut menggunakan tahun Saka.

Bentuk perayaan Nyepi pada zaman kejayaan Nusantara belum diketahui secara terperinci. Namun sesuai dengan pupuh LXXXIX kitab Negarakertagamabahwa semua aturan di Majapahit sepenuhnya juga diikuti di Bali, maka perrayaan Nyepi tidak dapat dilepas dari bagaimana umat Hindu merayakan di pulau Bali.

Di bali perayaan Nyepi bersumber pada dua buah lontar yaitu Sundarigama dan Swamandala, di samping tradisi yang turun menurun. Tradisi atau acara di dalam bahasa sansekerta memegang peranan terpenrting dalam sebagai wahama penunjang kehidupan beragama. Tidak kalah pentingnya dan pada akhirnya peranan Parisada Hindu Dharma Indonesia sebagai majelis tertinggi umat Hindu di Indonesia memberikan tuntunan, pengarahan dan pembinaan terhadap umat Hindu di Indonesia.

Nyepi di Indonesia dirayakan pada tanggal 1 bulan Waisakha dengan ”pati agni” yang sebelumnya pada hari Tilem bulan Chaitra dilaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga, upacara Bhuta yadnya yang dilaksaanakan setiap tahun sekali. Jadi perayaan Nyepi di Indonesia mempergunakan perhitungan ”Luni Solar Sistem” yang merupakan perpaduan antara tahun Saka dengan tahun candra.

3. Catur Brata Penyepian

Brata adalah pengendalian diri yang pada hakekatnya adalah yadnya dan bakti yang ditunjukkan kepada Ida sang Hyang Widi Wasa.

Tujuan pelaksanaan brata adalah:

  1. Untuk menyucikan diri lahir dan batin.
  2. Untuk melaksanakan yadnya dan bakti. Secara sekala (nyata) yadnya dilakukan dengan upakara dan upacara sebelum hari raya Nyepi sedangkan secara niskala (abstrak) diwujudkan dengan tapa, brat, yoga dan semadi.
  3. Untuk melaksanakan :”amulat sarira” atau instropeksi diri yakni menilai kembali perbuatan atau keberhasilan dan kegagalan di masa lampau.
  4. Untuk melaksanakan program kerja atau langkah selanjutnya sesuai dengan pertimbangan budi pekerti yang merupakan pancaran dari Sang Atma yang berstana dalam diri kita masing-masing.

Bagian-bagian dari Catur Brata Penyepian adalah:

  1. a. Amati Geni

Pada hakekatnya amati geni adalah mematikan kobaran api indriya. Utnuk melaksankan amati geni secara efektif maka dilakukan dalam bentuk monobrata yaitu kegiatan dalam bentuk meghentikan aktivitas mulut dan Upawasa yaitu berpuasa dengan tidak menikmati makanan atau minuman.

  1. b. Amati Karya

Artinya tidak melaksanakan kerja secara fisik sebagai upaya melaksanakan tapa (pengekangan indriya), brata ( taat dan teguh pada janji), yoga (menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi) dan semadhi (pemusatan pikiran untuk mencapai kebahagiaan sejati)

  1. c. Amati Lalanguan

Artinya tidak menikmati keindahan atau sesuatu yang mengasyikan. Pikiran dipusatkan utnuk menenungkan keagungan Sang Hyang Widhi untuk intropeksi diri dan mendengar suara alam tanpa aktivitas manusia/

  1. d. Amati Lalungaya

Berarti tidak berpergian kemanapun dalam artian tidak keluar rumah untuk mendukung kegiatan tapa, brat, yoga dan semadi.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: